Muhammad Abduh

Kalau riwayat jamaluddin al-afgani semasa kecil tidak banyak di ketahui, asal-usul muhammad abduh, pendidikannya semasa kecil dan dewasa serta hal-hal lain yang mengenai dirinya sebelum ia terkenal sebagai pemimpin islam  di zaman modern, dapat di ketahui baik dari karangannya sendiri maupun dari keterangan-keterangan orang lain.
                Ia lahir di suatu desa di Mesir Hilir. Di desa mana tidak dapat diketahui dengan pasti, karena ibu bapaknya orang desa biasa yang tidak mementingkan tanggal dan tempat lahir anak-anaknya. Kekerasan yang di pakai oleh penguasa-penguasa muhammad ali dalam mengumpulkan pajak dari penduduk-penduduk desa menyebabkan petani-petani selalu pindah. Bapak muhammad abduh sendiri senantiasa pindah dari desa ke desa dan akhirnya menetap di desa Mahallah Nasr. Bapak muhammad abduh bernama abduh hasan khairullah, berasal dari turki yang telah lama tinggal di mesir. Ibunya menurut riwayat berasal dari bangsa arab yang sisilahnya meningakat sampai ke suku bangsa umar bin al-Khattab.
                Muhammad abduh lahir dan menjadi dewasa dalam lingkungan desa dibawah asuhan ibu bapak yang tidak dengan didikan sekolah, tetapi mempunyai jiwa keagamaan yang teguh. Muhammad abduh di suruh belajar menulis dan membaca agar kemudian dapat membaca dan menghafal alquran. Ia dapat menghafalnya dalam masa dua tahun. Kemudian dikirim ke tanta untuk belajar agama di masjid syekh ahmad di tahun   1862. Setelah dua tahun belajar bahasa arab, nahu, saraf, fiqih dan sebagainya.
                Metode yang dipakai pada waktu itu ialah metode menghafal luar kepala muhammad abduh akhirnya lari dan meninggalkan pelajarannya di tanta. Ia pulang ke kampunganya dan berniat akan bekerja sebagai petani. Di tahun 1865, sewaktu itu ia berumur 16 tahun ia pun kawin. Tapi nasibnya akan menjadi orang besar. Niatnya untuk menjadi petani itu tak dapat di teruskannya. Baru saja 40 hari kawin, ia di paksa orang tuanya kembali belajar di tanta.
                Tapi bukan pergi ke tanta malah untuk bersembunyi lagi di rumah salah satu pamannya dan di sini ia bertemu dengan seorang yang mengubah jalan riwayat hidupnya, orang itu bernama syekh darwisy khadr, paman dari ayah muhammad abduh.
                Ia sekarang mulai mengerti apa yang di bacanya dan ingin mengerti dan mengetahui lebih banyak. Akhirnya ia pergi ke tanta untuk meneruska pelajaran. Setelah selesai belajar di sini, ia meneruskan studinya ke al-azhar di tahun 1866.
                Dan ketika al-afgani datang di tahun 1871, untuk menetap di mesir, muhammad abduh menjadi muridnya yang paling setia. Ia mulai belajar falsafat di bawah pimpinan al-afghani. Di tahun 1877 studinya selesai di al-azhar dengan mendapat gelaran alim. Ia mulai mengajar, pertama di al-azhar, kemudian di dar al-ulum dan juga dirumahnya sendiri.
                Dalam peristiwa ini yang disebut peristiwa ”revolusi urabi pasya”, muhammad abduh turut memainkan peranan. Dan seperti pemimpin-pemimpin lainnya, ia ditangkap, dipenjarakan dan kemudian di buang ke luar negeri pada penutup tahun 1882. Pada permulaannya ia pergi ke reirud, dan kemudian ke paris. Di tahun 1884, ia bersama-sama dengan al-afghani  mengeluarkan: al-urwah al-wusqa.
                Ditahun 1894, ia di angkat menjadi anggota majlis a’la dari al-azhar. Sebagai anggota dari majlis ini ia membawa perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan ke dalam tubuh al-azhar sebagai universitas. Di tahun 1899, ia diangkat menjadi mufti mesir. Kedudukan tinggi  ini di pegangnya sampai ia meniggal dunia di tahun 1905.
                Menurut muhammad abduh dapat di jalankan ibn taimiyah bahwa ajaran-ajaran islam terbagi dalam dua kategori, ibadat dan muamalah {hidup kemasyarakatn manusia} diambil dan ditonjolkan muhammad abduh. Sebaliknya ajaran-ajaran mengenai hidup kemasyaraktan umat hanya merupakan dasar-dasar dan prinsip-prinsip umum yang tidak terperinci.
                Ijtihad menurut pendapatnya bukan hanya boleh,  malhan penting dan perlu diadakan. Hany orang-orang yang memenuhi syrat-syarat di perlukan yang boleh mengadakan ijtihad. Jamaluddin al-afghani  menjelaskan bahwa paham kadadan kadar telah di selewengkan menjadi fatalisme, sedang paham itu sebenarnya mengandung unsur dinamis yang membuat umat islam di zaman klasik dapat membawa islam sampai di spanyol dan dapat menimbulkan peradaban yang tiggi.
                Di dalam bidang ketatanegaraan muhammad abduh juga berpendapat kekuasaan negara harus dibatasi. Dan dizamannya mesir telah mempunyai  konstitusi dan usahanya diwaktu itu tertuju pada membangkitkan kesadaran rakyat akan hak-hak mereka.

                                Pengaruh  Muhammad Abduh
                Pendapat da ajaran muhammad abduh mempengaruhi dunia islam terutama dunia arab melalui karangan muhammad abduh sendri, dan melalui tulisan murid-muridnya seperti muhammad rasyid rida dengan majalah lain al-manar dan tafsir al-manar, qasim amin dengan buku tahrir al-mar’ah, farid wajdi dengan dairah al-ma’arif dan karangan yang lainnya. Syaikh tantawi jauh hari dengan al-taj al-murasa’ bi jawahir al-quran wa al-ulum, kaum intelek atasan mesir seperti muhammad husein haykal dengan bukunya hayah muhammmad; abu bakar dan sebagainya.
                Karangan-karangan muhammad abduh sendriri telah banyak diterjemahjkan ke dalam bahasa turki, urdu dan indonesia.

Rasyid Rida
                Rasyid rida adalah murid muhammad abduh yang terdekat. Ia lahir pada tahun 1865 di al-qalamun, suatu desa dilebanon yang letaknya tidak jauh dari kota tripoli [syria]. Ia berasal dari ketuirunan al-husain, cucu nabi muhammad saw. Oleh karena itu ia memakai gelar al-sayyid di depan namanya. Semasa kecil  ia di masuk kan madrasah tradisional al-qalamun untuk belajar menulis, berhitung dan membaca al-quran. Tahun 1882, ia meneruskan pelajaran di madrasah al-watania al-islamiyah [sekolah nasional islam ditripoli. Selain dari bahasa arab diajarkan pula bahasa turki da prancis di samping pengetahuan agama juga pengetahuan modern.
                Rasyid rida meneruskan pelajarannya di salah satu sekolah agama yang ada di tripoli, selanjutnya ia banyak di pengaruhi oleh ide-ide jamluddin al-afghani dan muhammad abduh melalui majalah al-urwah al-wusqa. Beberapa bulan kemudian ia mulai menerbitkan majalah yang termasyhur , al-manar.  Rasyid rida melihat perlunya di adakan tafsiran modern dari al-quran, yaitu tafsiran yang sesuai ide-ide yang dicetuskan gurunya. Keterangan yang diberikan guru ia catat untuk seterusnya disusun dalam bentuk karangan teratur.
                Setelah mendapat persetujuan karangan itu ia siarkan dalam al-manar. Dengan demikian timbulah apa yang kemudian di kenal dengan tafsir al-manar. Muhammad abduh memberikan kuliah-kuliah tafsir sampai ia meninggal di tahun 1905.
                Rasyid rida juga merasa perlunya dilaksanakan ide pembaharuan dalam bidang pendidikan. Untuk itu ia melihat perlunya di tambahkan ke dalam kurikulum mata-mata pelajaran berikut: teologi, pendidikan moral, sosiologi, ilmu bumi, sejarah, ekonomi, ilmu hitung, ilmu kesehatan, bahas asing, dan ilmu mengatur rumah tangga [kesejahteraan keluarga] yaitu disamping fiqih, tafsir, hadist.
                Dimasa tua, sungguh pun keshatannya telah selalu terganggu, ia tidak mau tinggal diam dan senantiasa aktif. Aakhirnya ia meninggal dunia dibulan agustus 1935, sekembahnya dari mengantar kan pangeran su’ud kekapal di suez. Pemikiran pembaharuan yang di majukan rasyid rida, tidak banyak berbeda dengnan ide muhammad abduh dan jamaluddin al-afghani. pengertian umat islam tentang ajaran agama salah dan perbuatan mereka telah mnyeleweng dari ajaran islam yang sebenarnya.
                Rasyid rida, sebagai muhammad abduh, menghargai akal manusia. Akal dapat di pakai terhadap ajaran-ajaran mengenai hidup kemasyaraktan. Tetapi tidak terhadap ibadat. Ijtihad dalam soal ibadat tidak di perlukan lagi. Ijtihad diperlukan hanya untuk soal-soal hidup kemasyarakatan. Peradaban barat modern menurut rasyid rida di dasarkan atas kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi  yang tidak bertentangan dengan islam. Bahkan ia melihat wajib bagi umat islam mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi itu. Sungguhpun ide-ide yang  di majukan rasyid rida banyak persamaannya dengan ide-ide muhammad abduh, antara murid dan guru terdapat perbedaan.
                Rasyid rida masih memegang mazhab dan masih terikat pada pendapat-pendapat ibnu hambal dan ibn taimiyah. Muhammad abduh lebih liberal dari pada rasyid rida. Bagi rasyid rida kelihatannya takhta tuhan masih mengandung arti takhta, sungguhpun takhta tuhan tidak sama dengan takhta manusia. Rasyid rida dalam komentarnya lebih menekankan balasan dalam bentuk jasmani dan bukan dalam bentuk rohani.